:: Galeri Foto

:: My ShoutBox

:: Calender On-Line

    July 2010
    MSSRKJS
        123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

:: Kategori

:: Arsip


:: Testimonials

  • cuy...tu blog's di desain lagi dong, gambarnya aneh tuh, kasi kreasi dong biar tampilannya okeh..!!

:: Blog Roll

:: Statistik

Pahlawan & Bambu Runcing

"Pahlawan"

Pahlawan bukan hanya dimaknai sebagai orang yang berjuang mengorbankan jiwa raganya saja. Sudah waktunya pahlawan diartikan sebagai nilai-nilai dan semangat. Terlalu sempit menghargai pahlawan hanya sebagai sosok fisiknya. Kepahlawanan adalah semangat untuk berdikari, semangat untuk membela kaum tertindas.

Kata pahlawan selama ini identik dengan romantisme perjuangan dengan senjata dan darah. Kepahlawanan lebih dilihat dalam heroisme menegakkan panji-panji kebesaran. Dikembangkan mitos bahwa dunia kepahlawanan adalah dunia orang yang gagah berani semata. Itu tidak salah. Tetapi, jika hanya itu yang diangkat, justru akan menenggelamkan nilai- nilainya.

Kita disuguhi cerita yang membuat kepahlawanan mengalami reduksi makna. Kepahlawan lalu berpengertian sangat sempit dan agaknya kurang tepat karena mitos tersebut hanya melahirkan "budaya otot" yang dominan dalam ruang publik. Ini membuat kita kurang menghargai akal sehat dalam segala hal.

Kita merdeka bukan sekadar karena perang secara fisik melainkan karena juga jasa orang- orang cerdas, intelektual, budayawan, sastrawan dan seluruh komponen rakyat. Dengan diplomasi tingkat tinggi mereka mampu meyakinkan dunia internasional bahwa penjajahan bertentangan dengan kemanusiaan dan keadilan.

Pelan, tapi pasti, republik ini kurang menghargai orang cerdas dalam tata kelola publik. Mereka
tiba-tiba hilang dalam pentas dikalahkan mitos hero, yakni mereka yang katanya berani menyerahkan jiwa raganya. Seolah- olah mereka inilah pewaris negeri ini dengan jasa begitu besar. Memang andil mereka harus diakui, namun jangan membuat kita terjebak pada mitos kepahlawanan sempit seperti ini. Ini hanya akan menimbulkan imajinasi bahwa hanya merekalah yang berjasa paling besar di republik ini.


"Bambu Runcing"

Akibat pudarnya nilai-nilai kepahlawanan ini membuat kita makin sulit mengangkat diri menjadi bangsa yang dihargai di mata internasional. Kita takluk di bawah perintah dan kemauan asing. Nilai-nilai kepahlawanan yang melekat tak cukup digdaya untuk membuat kita keluar dari lingkaran ketergantungan tersebut.


Kemajemukan dan kakayaan alam yang seharusnya dijadikan modal untuk menyejahterakan rakyat,
realitasnya sebagian besar telah kita gadaikan dan manfaatkan bukan untuk kepentingan kita sendiri. Ini terjadi akibat banyak orang berpikir atas nama dan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk dan atas nama bangsanya.

Budaya yang kita bangun tidak mampu melahirkan gugus insting yang mampu mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, berkomunikasi dalam cara yang cerdas, dan menghargai nilai-nilai keanekaragaman budaya. Hal ini disebabkan ketiadaan arah dalam membangun kebudayaan yang melahirkan sistem nilai dan akhirnya mempengaruhi sistem kerja.

Perilaku "kepahlawanan" yang mementingkan otot justru semakin marak di Tanah Air. Para pahlawan kesiangan berteriak-teriak moral di saat yang sama sedang menginjak nilai-nilai kemanusiaan. Mereka haus disebut sebagai pahlawan walaupun laku kehidupannya sama sekali tak mencerminkan seorang pahlawan. Ya, inilah, kita hidup di bangsa yang elite-elitenya sering haus pujian.

Pola "pahlawan" palsu yang hanya mengandalkan kekuatan otot inilah yang seringkali membuat bangsa ini makin bertambah banyak masalahnya. Masalah kita bukan hanya bagaimana berhadapan secara elegan dengan bangsa lain, melainkan juga dengan sekelompok anak negeri yang lebih mementingkan kelompoknya daripada bangsanya. Kini kita membutuhkan makna kepahlawan yang lebih luas dan dalam. Pahlawan bukan sekadar mitos "bambu runcing", melainkan mereka yang

terus-menerus menemukan kreativitas dalam memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat. Pahlawan adalah mereka yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang. Pahlawan adalah pejabat publik yang bisa memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang murah.

Mereka-mereka inilah yang seharusnya kita sebut pahlawan. Mereka adalah sosok yang bermanfaat bagi warga bangsanya. Mereka inilah yang layak disebut pejuang sejati karena adanya mereka untuk memperjuangkan kesejahteraan, kemanusiaan, dan keadilan. Dekonstruksi kepahlawanan dengan demikian perlu dipikirkan kembali untuk menemukan makna terdalam apa yang dimaksudkan dengan pahlawan itu.

Tak Cukup Mengheningkan Cipta? Mungkin "cukup". Tetapi arti mengheningkan cipta bukan bagaimana kepala tertunduk belaka. Artinya, meneladani sikap baik pahlawan, mengabdi kepada kemanusiaan, membela yang lemah dan tertindas, dan membela hak yang dirampas. Tentu tak cukup menghormati mereka hanya dengan mengheningkan cipta berulang-ulang tanpa mengaktualkan sikap dan laku hidup.

Makna Kemerdekaan

Kemerdekaan bagi orang Muslim adalah kemerdekaan yang ditandai dengan tegaknya secara total hukum Qur’an dan Sunnah di seluruh penjuru bumi, sehingga syariah dapat diterapkan secara menyeluruh dan sempurna dalam kehidupan sehari-harinya…

Penerapan syariah itu akan tegak secara sempurna mana kala ada institusi yang menegakkannya dan mengayominya, institusi yang mengurusi seluruh kepentingan umat itulah Daulah Khilafah Islamiyah yang menjadi wadah persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Khilafah akan mengantarkan negeri-negeri kaum muslimin menuju Baldhatun Thayyibatun Warabbun ghafuur…., sehingga umat Islam akan terbebas dari kezholiman negeri-negeri kafir imperialis dan arogansi ideologi kapitalis-sekuleris, amin..

Dengan Khilafah, syariah tegak secara sempurna..
Terikat dengan syariah, kurengkuh ridho Alloh…

Semoga bangsa ini, mulai dari hari kemerdekaan ini, mampu bangkit dan dikemudian hari menjadi garda terdepan dalam penerapan syariah… Laughing

kemerdekaan itu berhubungan sama suatu keterikatan. Tapi keterikatan itu blm tentu negatif, belum tentu penindasan, penjajahan ato yg serem2. Misalnya…apa ya….?
Waktu jaman Nabi dulu, masih ada perbudakan. Budak ato hamba sahaya itu bisa dibilang belum merdeka,tapi ga semua budak itu ditindas loh…(walo sebagian besar memang).
Intinya menurut gw, kemerdekaan itu INDEPENDENSI Smile

kemerdekaan? apa batasan darinya? coba kita tengok dalam kehidupan. hidup kadang diatas kadang dibawah. tergantung gimana cara kita untuk menjalaninya. kalau udah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih yang diatas dan ternyata gagal! so what… ada yang bilang kalo dibawah adalah terjajah, tapi itu kenyataan yang harus dihadapi. menurut aku, merdeka adalah diri kita dan bagaimana cara kita menghadapi kehidupan. jika anda merdeka maka merdekalah anda. jika anda tidak puas dengan kehidupan, terjajahlah anda. just free your self but don’t forget to try first! Laughing

peringatan hari kemerdekaan kadang hanya bersifat mubazir saja. yg perlu di ambil makna nya adalah sifat nasionalisme yg terkandung pada hari itu. namun, setelah hari kemrdekaan smua seperti semula. Tetap pada individualisme masing-masing. Ingin nya negara ini bersatu tanpa adanya disintegrasi. Smile

peringatan hari kemerdekaan kadang hanya bersifat mubazir saja. yg perlu di ambil makna nya adalah sifat nasionalisme yg terkandung pada hari itu. namun, setelah hari kemrdekaan smua seperti semula. Tetap pada individualisme masing-masing. Ingin nya negara ini bersatu tanpa adanya disintegrasi. Laughing

Gema Kemerdekaan Indonesia

Hampir setiap tahun kita memperingati hari kemerdekaan negara kita. Tentunya sebagai warga negara yang baik, kita sudah sepatutnya ikut bersuka-cita dalam memperingati tonggak bersejarah lahirnya Republik Indonesia yang kita cintai ini. Namun, beberapa tahun belakangan gema kemerdekaan mulai terasa hambar, terasa adanya semacam anomali, bahwa rutinitas perayaan hari kemerdekaan yang kita rayakan ini tak lebih hanya sekedar tradisi simbolik yang tidak memiliki makna apa-apa, terutama bagi generasi penerus bangsa kita saat ini.

Sebenarnya kalau kita mau membuka mata masih banyak tantangan perjuangan yang harus kita jawab sebagai generasi yang sudah menikmati kemerdekaan ini. Sekedar merdeka saja tidak cukup, kita juga harus mampu berpacu dengan negara-negara tetangga dan mengejar ketinggalan kita.

Padahal proyeksi penduduk Indonesia 15 sampai 20 tahun yang akan datang justru menunjukkan bahwa penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) meningkat cukup signifikan, bahkan proporsinya akan mencapai tingkat tertinggi. Sebuah peluang emas bagi bangsa Indonesia untuk memacu produktivitas dan daya saing di kancah globalisasi.

Kuncinya adalah bagaimana kita mempersiapkan diri agar generasi kita yang akan datang bisa memiliki pendidikan, keahlian yang memadai, sehat, dan sigap beradaptasi menghadapi gelombang perubahan yang kian cepat dengan topangan teknologi informasi dan komunikasi yang makin booming.

Sayang kenyataan berkata lain, tengok saja berbagai indikator yang terkait dengan pembangunan sumber daya manusia. Indeks pendidikan kita paling rendah di negara-negara Asia Timur diluar Kamboja dan Laos, bahkan dengan Vietnam saja kita kalah.

Berdasarkan data UNESCO, dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan pun angka kita paling rendah, yaitu berada di bawah 400. Belum lagi permasalahan lainnya yang tak kunjung membaik, seperti kemiskinan, korupsi, konflik antar etnis, kriminalitas, dan berbagai kondisi serta perilaku lainnya yang mencerminkan bahwa bangsa kita ini belum sepenuhnya beradab.

Apakah karena kita sudah merdeka dari penjajahan fisik, lantas kita menganggap bahwa perjuangan bangsa ini sudah berakhir? Tentu saja tidak, karena kian hari negara kita dihadapkan pada masalah yang kian pelik, mulai dari gempuran ekonomi, budaya, sampai ideologi yang dapat menjadi ancaman bagi generasi kita sekarang ini. Lihatlah bagaimana perilaku-perilaku anak bangsa kita di televisi dan media-media, yang justru semakin jauh dari identitas kebangsaannya. Bagaimana generasi muda kita saat ini dihadapkan pada tantangan globalisasi yang tidak ringan, mulai dari masalah narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas, sampai konflik sosial sosial budaya.

Maka kuncinya hanya satu, introspeksi diri. Dengan memperingati hari kemerdekaan kita yang ke-60 tahun, seharusnya membuat kita semakin dewasa dan bijaksana dalam menyikapi hidup. Perubahan dalam masyarakat bangsa dan negara harus kita mulai dari diri sendiri dan keluarga. Jangan sia-siakan pengorbanan para pahlawan dan pendiri bangsa ini, yang mengharapkan rakyat Indonesia di seluruh nusantara bisa mendapatkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih layak, dan mampu memberikan kontribusi yang positif bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Deklarasi Bangkit Indonesia