| July 2010 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
|   |   |   |   | 1 | 2 | 3 |
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
"Pahlawan"
Pahlawan bukan hanya dimaknai sebagai orang yang berjuang mengorbankan jiwa raganya saja. Sudah waktunya pahlawan diartikan sebagai nilai-nilai dan semangat. Terlalu sempit menghargai pahlawan hanya sebagai sosok fisiknya. Kepahlawanan adalah semangat untuk berdikari, semangat untuk membela kaum tertindas.
Kata pahlawan selama ini identik dengan romantisme perjuangan dengan senjata dan darah. Kepahlawanan lebih dilihat dalam heroisme menegakkan panji-panji kebesaran. Dikembangkan mitos bahwa dunia kepahlawanan adalah dunia orang yang gagah berani semata. Itu tidak salah. Tetapi, jika hanya itu yang diangkat, justru akan menenggelamkan nilai- nilainya.
Kita disuguhi cerita yang membuat kepahlawanan mengalami reduksi makna. Kepahlawan lalu berpengertian sangat sempit dan agaknya kurang tepat karena mitos tersebut hanya melahirkan "budaya otot" yang dominan dalam ruang publik. Ini membuat kita kurang menghargai akal sehat dalam segala hal.
"Bambu Runcing"
Akibat pudarnya nilai-nilai kepahlawanan ini membuat kita makin sulit mengangkat diri menjadi bangsa yang dihargai di mata internasional. Kita takluk di bawah perintah dan kemauan asing. Nilai-nilai kepahlawanan yang melekat tak cukup digdaya untuk membuat kita keluar dari lingkaran ketergantungan tersebut.
Kemajemukan dan kakayaan alam yang seharusnya dijadikan modal untuk menyejahterakan rakyat, realitasnya sebagian besar telah kita gadaikan dan manfaatkan bukan untuk kepentingan kita sendiri. Ini terjadi akibat banyak orang berpikir atas nama dan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk dan atas nama bangsanya.
Budaya yang kita bangun tidak mampu melahirkan gugus insting yang mampu mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, berkomunikasi dalam cara yang cerdas, dan menghargai nilai-nilai keanekaragaman budaya. Hal ini disebabkan ketiadaan arah dalam membangun kebudayaan yang melahirkan sistem nilai dan akhirnya mempengaruhi sistem kerja.
Perilaku "kepahlawanan" yang mementingkan otot justru semakin marak di Tanah Air. Para pahlawan kesiangan berteriak-teriak moral di saat yang sama sedang menginjak nilai-nilai kemanusiaan. Mereka haus disebut sebagai pahlawan walaupun laku kehidupannya sama sekali tak mencerminkan seorang pahlawan. Ya, inilah, kita hidup di bangsa yang elite-elitenya sering haus pujian.
Pola "pahlawan" palsu yang hanya mengandalkan kekuatan otot inilah yang seringkali membuat bangsa ini makin bertambah banyak masalahnya. Masalah kita bukan hanya bagaimana berhadapan secara elegan dengan bangsa lain, melainkan juga dengan sekelompok anak negeri yang lebih mementingkan kelompoknya daripada bangsanya. Kini kita membutuhkan makna kepahlawan yang lebih luas dan dalam. Pahlawan bukan sekadar mitos "bambu runcing", melainkan mereka yang
terus-menerus menemukan kreativitas dalam memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat. Pahlawan adalah mereka yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang. Pahlawan adalah pejabat publik yang bisa memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang murah.
Mereka-mereka inilah yang seharusnya kita sebut pahlawan. Mereka adalah sosok yang bermanfaat bagi warga bangsanya. Mereka inilah yang layak disebut pejuang sejati karena adanya mereka untuk memperjuangkan kesejahteraan, kemanusiaan, dan keadilan. Dekonstruksi kepahlawanan dengan demikian perlu dipikirkan kembali untuk menemukan makna terdalam apa yang dimaksudkan dengan pahlawan itu.
Tak Cukup Mengheningkan Cipta? Mungkin "cukup". Tetapi arti mengheningkan cipta bukan bagaimana kepala tertunduk belaka. Artinya, meneladani sikap baik pahlawan, mengabdi kepada kemanusiaan, membela yang lemah dan tertindas, dan membela hak yang dirampas. Tentu tak cukup menghormati mereka hanya dengan mengheningkan cipta berulang-ulang tanpa mengaktualkan sikap dan laku hidup.
Kemerdekaan bagi orang Muslim adalah kemerdekaan yang ditandai dengan tegaknya secara total hukum Qur’an dan Sunnah di seluruh penjuru bumi, sehingga syariah dapat diterapkan secara menyeluruh dan sempurna dalam kehidupan sehari-harinya…
Penerapan syariah itu akan tegak secara sempurna mana kala ada institusi yang menegakkannya dan mengayominya, institusi yang mengurusi seluruh kepentingan umat itulah Daulah Khilafah Islamiyah yang menjadi wadah persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Khilafah akan mengantarkan negeri-negeri kaum muslimin menuju Baldhatun Thayyibatun Warabbun ghafuur…., sehingga umat Islam akan terbebas dari kezholiman negeri-negeri kafir imperialis dan arogansi ideologi kapitalis-sekuleris, amin..
Dengan Khilafah, syariah tegak secara sempurna..
Terikat dengan syariah, kurengkuh ridho Alloh…
Semoga bangsa ini, mulai dari hari kemerdekaan ini, mampu bangkit dan dikemudian hari menjadi garda terdepan dalam penerapan syariah… 
kemerdekaan itu berhubungan sama suatu keterikatan. Tapi keterikatan itu blm tentu negatif, belum tentu penindasan, penjajahan ato yg serem2. Misalnya…apa ya….?
Waktu jaman Nabi dulu, masih ada perbudakan. Budak ato hamba sahaya itu bisa dibilang belum merdeka,tapi ga semua budak itu ditindas loh…(walo sebagian besar memang).
Intinya menurut gw, kemerdekaan itu INDEPENDENSI 
kemerdekaan? apa batasan darinya? coba kita tengok dalam kehidupan. hidup kadang diatas kadang dibawah. tergantung gimana cara kita untuk menjalaninya. kalau udah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih yang diatas dan ternyata gagal! so what… ada yang bilang kalo dibawah adalah terjajah, tapi itu kenyataan yang harus dihadapi. menurut aku, merdeka adalah diri kita dan bagaimana cara kita menghadapi kehidupan. jika anda merdeka maka merdekalah anda. jika anda tidak puas dengan kehidupan, terjajahlah anda. just free your self but don’t forget to try first! 
peringatan hari kemerdekaan kadang hanya bersifat mubazir saja. yg perlu di ambil makna nya adalah sifat nasionalisme yg terkandung pada hari itu. namun, setelah hari kemrdekaan smua seperti semula. Tetap pada individualisme masing-masing. Ingin nya negara ini bersatu tanpa adanya disintegrasi. 
peringatan hari kemerdekaan kadang hanya bersifat mubazir saja. yg perlu di ambil makna nya adalah sifat nasionalisme yg terkandung pada hari itu. namun, setelah hari kemrdekaan smua seperti semula. Tetap pada individualisme masing-masing. Ingin nya negara ini bersatu tanpa adanya disintegrasi.